Biografi Laila Sari - Artis 'Tiga Zaman'

Biografi Laila Sari - Artis 'Tiga Zaman'

 Laila Sari
Laila Sari adalah aktris dan penyanyi Indonesia. Perempuan kelahiran Padang Panjang, Hindia Belanda, 4 November 1935 ini mengawali karier sebagai pemain sandiwara dan penyanyi. Kariernya dilanjutkan dengan bermain dalam film layar lebar. Putri pasangan Kamaroeddin (Ayah) dan Rachmawati (Ibu) itu juga bermain dalam sejumlah sinetron, ketika film layar lebar mengalami kemunduran.

Selama tiga zaman atau enam dekade lebih, Suami dari Boertje (1960-2000) ini telah berkecimpung di panggung hiburan Tanah Air. Di akhir hayatnya, kondisi hidupnya amatlah memprihatinkan.

Laila hidup di rumahnya yang sederhana di Tangkiwood, Jakarta Barat. Daerah itu dulu memang dikenal sebagai penghasil artis berbakat di eranya. Sebut saja Aminah Cendrakasih dan (alm) Bing Slamet.

Laila sari meninggal dunia pada Senin (20/11/2017) sekitar pukul 19.50 WIB di usia 82 tahun.


Biodata:
  • Nama lengkap: Nur Laila Sari Jahrotuljannah
  • Lahir: 4 November 1935, Padang Panjang, Hindia Belanda
  • Meninggal: 20 November 2017, Jakarta
  • Pasangan: Bertje (m. 1960–2000)
  • Orang tua: Kamaroeddin(Ayah); Rachmawati (Ibu)
  • Film: Wadjah Seorang Laki-Laki, Sinyo Adi, Hantu Tanah Kusir
  • Genre: Musik rok, Children's song


Filmografi
  • Dinamika (1955)
  • Peristiwa 10 November (1956)
  • Singa Betina dari Marunda (1971)
  • Wadjah Seorang Laki-Laki (1971)
  • Warung Pojok (1977)
  • Pulau Putri (1977)
  • Inem Nyonya Besar (1977)
  • Tuan Besar (1977)
  • Sinyo Adi (1977)
  • Kembang Semusim (1980)
  • Juara Cilik (1980)
  • Ketika Cinta Harus Memilih (1981)
  • Halimun (1982)
  • Ke Ujung Dunia (1983)
  • Tante Garang (1983)
  • Kelainan Cinta (1983)
  • Perempuan Kedua (1990)
  • Lupus IV (1990)
  • Amrin Membolos (1996)
  • Anda Puas, Saya Loyo (2008)
  • Cinlok (2008)
  • Anak Ajaib (2008)
  • Hantu Tanah Kusir (2010)
  • Comic 8 (2014)
  • Boneka Setan (2014)
  • Air & Api (2015)


Sinetron
  • Mermaid In Love (SCTV, 2016)
Baca Selengkapnya
Biografi Mohammed bin Salman - Putra Raja Salman Al Saud

Biografi Mohammed bin Salman - Putra Raja Salman Al Saud

Mohammed bin Salman
Muhammad bin Salman bin Abdulaziz al-Saud adalah Putra Mahkota, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Arab Saudi. Dia juga Ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan. Pada 21 Juni 2017 Muhammad bin Salman ditunjuk sebagai Putra Mahkota oleh Raja Salman. Dia adalah anggota dari Dinasti Saud dan juga anak dari Raja Salman.

Pekan depan, rencananya Pangeran Mohammed bin Salman yang saat ini berusia 32 tahun akan berkuasa menggantikan ayahnya Raja Salman bin Adbulaziz Al Saud saat ini telah berusia 81 tahun.

Salman bin Adbulaziz Al Saud menduduki takhta raja Arab Saudi sejak 23 Januari 2015, menggantikan saudara sekaligus raja sebelumnya Raja Abdullah yang meninggal dunia.

Setelah posisi tahta diduduki Mohammed bin Salman, Raja Salman kemudian hanya akan menjadi pemimpin seremonial, sementara kepemimpinan resmi negara akan diserahkan kepada putra mahkota.

Raja Salman selanjutnya hanya akan berperan seperti Ratu Inggris. Beliau hanya akan mempertahankan gelar 'Penjaga Dua Masjid Suci.

Mohammed bin Salman lahir 31 Agustus 1985 di Riyadh, Arab Saudi. Ia merupakan putra dari pasangan Salman bin Abdulaziz al-Saud (ayah) dan Fahdah binti Falah bin Sultan Al Hitsalain al-'Ajami (ibu).

Ia menyelesaikan Studi Sarjana dalam bidang Hukum dari Universitas Raja Saud. Istrinya adalah Putri Sarah binti Pangeran Masyhur bin Abdul Aziz Al Saud, memiliki 4 anak yaitu Pangeran Salman, Pangeran Masyhur, Putri Fahdah dan Putri Noura.


Kegiatan

Politik
  • 22 Rabi'ul Awwal 1428 H/10 April 2007, diangkat sebagai Penasihat paruh waktu di Badan Intelejen di Kabinet
  • 28 Dzulqa'dah 1430 - 20 Rabi'u Tsani 1434 H/16 Desember 2009-3 Maret 2013, diangat sebagai Penasihat Khusus Gubernur Riyadh, Penasihat di Badan Intelejen
  • Sekretaris Jenderal Pusat Kompetitif Riyadh
  • Penasihat Khusus Ketua Majelis Pengelola Sirkuit Raja Abdul Aziz
  • Anggota Komite Tinggi Eksekutif untuk Pengembangan Dir'iyyah
  • Penasihat Khusus dan Pembimbing Kantor Urusan Putra Mahkota Salman bin Abdul Aziz
  • 20 Rabi'u ats-Tsani 1434 H/3 Maret 2013, diangkat sebagai Ketua Mahkamah dan Penasihat Putra Mahkota setingkat dengan Menteri
  • 5 Ramadhan 1434 H/13 Juli 2013, diangkat sebagai Pembimbing Umum Kantor Menteri Pertahanan
  • 25 Rajab 1435 H/25 April 2014, diangkat menjadi Menteri Negara anggota Kabinet sesuai perintah Surat Keputusan Kerajaan
  • 3 Rabi'u ats-Tsani 1436 H/23 Januari 2015, diangkat sebagai Menteri Pertahanan, Ketua Mahkamah Kerajaan dan Penasihat Khusus Pelayan Dua Tanah Suci setingkat dengan Menteri, susuai dengan perintah Surat Keputusan Kerajaan
  • 9 Rabi'u ats-Tsani 1436 H/29 Januari 2015, Surat Keputusan Kerajaan dikeluarkan mengenai reshuffle kabinet, ia tetap menjabat sebagai Menteri Pertahanan, surat tersebut juga mengeluarkan keputusan untuk membentu Majelis Urusan Ekonomi dan Pembangunan yang dipimpin olehnya
  • 29 April 2015 dikeluarkan Surat Keputusan Kerajaan atas pengangkatan Muhammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud sebagai Deputi Putera Mahkota dan Wakil Perdana Menteri Kedua, Menteri Pertahanan dan Ketua Dewan Majelis Urusan Ekonomi dan Pembangunan.

Sosial dan amal
  • Membentuk Yayasan Sosial Pangeran Muhammad bin Salman Misk al-Khairiyyah, dan menjadi Ketua Direksi pada yayasan tersebut
  • Anggota Majelis Yayasan Sosial al-Qur'an al-Karim di Riyadh
  • Anggota Badan Tinggi Koordinasi Yayasan Sosial se-Provinsi Riyadh
  • Ketua Majelis Sekolah Non-profit Riyadh


Deputi Putra Mahkota

Pada 29 April 2015, Muhammad bin Salman menjadi Deputi Putra Mahkota, menggantikan Muhammad bin Nayef.


Perang di Yaman

Sebagai Menteri Pertahanan, Pangeran Muhammad telah menjadi komandan terkemuka Operasi Badai Yang Menentukan, sebuah operasi militer besar pertama Arab Saudi pada abad ke-21.

Total 100 jet tempur canggih dan 150 ribu tentara dikerahkan pemerintah Saudi Arabia untuk menumpas kelompok Hutsi di Yaman, dalam waktu yang cukup singkat Angkatan Udara Saudi berhasil menerapkan zona larangan terbang di langit Yaman.

Setelah Asifah al-Hazm (Operasi Badai) dianggap berhasil, setelah itu masih di bawah komando Pangeran Muhammad bin Salman diluncurkan lagi operasi lanjutan yang disebut operasi I'adah al-Amal (Mengembalikan Harapan) untuk mempertahankan stabilitas keamanan di negara Yaman.


Sumber: id.wikipedia.org
Baca Selengkapnya
Profil dan Biodata Ananda Sukarlan - Pianis yang Walk Out saat Anies Baswedan Pidato di Kolese Kanisius

Profil dan Biodata Ananda Sukarlan - Pianis yang Walk Out saat Anies Baswedan Pidato di Kolese Kanisius

Ananda Sukarlan
Ananda Sukarlan adalah pianis asal Indonesia yang menetap di Spanyol. Namanya lebih dikenal di kalangan musik klasik. Ia menjadi satu-satunya orang Indonesia dalam buku "The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century", yang berisikan riwayat hidup 2000 orang yang dianggap berdedikasi pada dunia musik.

Pemilik akun Twitter @anandasukarlan ini kini menjadi perbincangan netizen karena aksi meninggalkan ruangan saat Gubernur DKI Jkaarta Anies Baswedan berpidato di acara peringatan 90 tahun berdirinya Kolese Kanisius di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (11/11/2017).


Ananda Sukarlan lahir di Jakarta pada tanggal 10 Juni 1968. Ia adalah anak dari pasangan Sukarlan dan Poppy Kumudastuti. Ananda telah belajar bermain piano sejak kecil, ia pertama kali mengenal piano pada usia lima tahun melalui kakaknya, Martani Widjayanti.

Untuk lebih mengembangkan bakatnya dalam berpiano, orang tua Ananda  mengikutsertakan dalam kursus piano yang dibimbing oleh Soetarno Soetikno dan Rudy Laban.

Setelah lulus dari SMA, ia kemudian melanjutkan pendidikannya dengan menerima tawaran beasiswa Piano Petrof dari University of Hadford, Connecticut, Amerika Serikat pada tahun 1986.

Saat usianya menginjak 17 tahun ia pergi ke eropa untuk memperdalam ilmu bermain piano di Koninklijk Conservatorium Den Haag. Di tempat terakhir ini ia meraih master dengan predikat summa cum laude pada tahun 1993 di bawah bimbingan Naum Grubert, seorang pianis handal yang sering menyabet gelar internasional.

Kesempatan bersekolah di Eropa ini dipakainya untuk mengikuti berbagai kompetisi piano internasional. Ia mulai rajin tampil dalam festival-festival di luar negeri mendampingi orkestra simfoni dan ansambel terkenal di beberapa kota besar Eropa seperti Berlin, Rotterdam, Paris, Wellington, dan hampir semua orkestra simfoni di Spanyol. Dari sinilah namanya kemudian mulai dikenal dunia.


Mengisi acara-acara resmi kenegaraan:
  • Tahun 2000, diundang Ratu Sofia dari Spanyol untuk mengisi acara konser pada Malam Gala Queen Sofia Prize di Madrid.
  • 19 Agustus 2000, pernah tampil di hadapan Presiden Abdurrahman Wahid di Istana Merdeka pada acara konser recital esklusif yang diselenggarakan.
  • Tahun 2002, berkolaborasi dengan komponis besar Perancis Pierre Boulez pada tur konser ke 11 kota di antaranya Helsinkski, Oslo, Santiago, dan Paris.


Penghargaan
  • Eduard Elipse Award di Amsterdam, Belanda (1988)
  • Juara Pertama "Nadia Boulanger" - Concours International d'Orleans di Orleans, Prancis, (1993).
  • Juara Pertama "Xavier Montsalvatge" - Concurso de Musica del Siglo XX Xavier Montsalvatge, Ginora, Spanyol (1993)
  • Juara Pertama "Blanquefort Piano Competition", Bordeaux, Prancis (1994)
  • Juara Pertama dan Juara Favorit kategori The Best Interpreter of Spanish Music "City of Ferrol Piano Competition" di Galicia, Spanyol (1995)
  • Juara Kedua "Sweelinck-Postbank", Amsterdam, Belanda (1995)
  • Juara Ketiga "Fundacion Guerrero Competition", Madrid, Spanyol (1995)
  • Juara Kedua "Vienna Modern Master Performers Recording Award" (1996)
  • Outstanding Musicians on the 20th Century. (2000)
  • Nominee Unesco Prize (2001)
  • Mont Blanc Asia atas kontribusinya untuk industry music klasik Indonesia (2003)
  • Pianis Indonesia pertama yang tercatat dalam The International Who's Who in Music book.


Sumber:
Baca Selengkapnya
Biografi A’yat Khalili - Penulis Muda Dengan Segudang Penghargaan

Biografi A’yat Khalili - Penulis Muda Dengan Segudang Penghargaan

A’yat Khalili, bernama asli Khalili. Lahir di Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, 10 Juli 1990, adalah seorang penulis muda berkebangsaan Indonesia. Karya-karyanya berupa puisi, cerita pendek, esai dan catatan perjalanan tersebar di berbagai media lokal nasional dan mancanegara, juga banyak mendapat penghargaan karya. A’yat tidak hanya dikenal di sebagian kalangan penulis tanah air, tetapi juga sampai ke manca negara seperti Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam.



Latar Belakang

A’yat Khalili memiliki nama asli Khalili, lahir dari sebuah keluarga di pedalaman Kampung Telenteyan, Desa Longos, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep. Menekuni karier dunia tulis-menulis dimulai dari kesukaannya menulis catatan harian dan lirik lagu sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Yayasan Abdullah (YAS’A) Pangarangan (2004-2006). Dari aktivitas menulis yang dilakoni secara tekun, ia kemudian bergabung dalam komunitas Debat-Tulis kala itu. Kemudian dia meneruskan pendidikannya ke Pondok Pesantren Annuqayah, Daerah Latee, dan sekolah Madrasah Aliyah 1 Annuqayah, Guluk-Guluk (2006-2009). Di sana, dia merintis komunitas Rumah Sastra Bersama, bergabung dengan komunitas Bengkel Puisi Annuqayah (BPA) dan menjadi pewarta Harian Online Kabar Indonesia (HOKI).

Sejak itu, pria yang dulu pernah memiliki nama pena A'yat Syafrana G. Khalili ini mulai menulis di berbagai media, mulai koran lokal seperti Radar Madura, dan juga koran dan majalah nasional seperti Majalah Horison, Majalah Gong, Kompas Muda, Jawa Pos, Sahabat Pena, Majalah Kuntum, Media Jawa Timur, Radar Surabaya, Majalah Annida, Kendari Pos, Majalah Sagang, Majalah Bende. Tetapi, dia lebih sering mengirimkan karyanya untuk mengikuti lomba atau seleksi penghargaan dengan alasan terbatasnya media cetak yang sampai ke pesantren saat itu.

Selain itu, karya-karyanya juga termuat dalam beberapa buku bunga rampai, antara lain:
  • Sebab Akulah Kata (kedokbooks, 2007)
  • Pukau Kampung Semaka (DKLampung, 2010)
  • Lelaki yang Dibeli (obsesipress, 2011)
  • SINAR SIDDIQ 6: Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara 2012 (Sabah-Malaysia, 2012)
  • Narasi Tembuni (KSI, 2012)
  • Nanyian Kesetiaan (obsesipress, 2012)
  • Dari Sragen Memandang Indonesia (2012)
  • Sauk Seloko (PPN VI, DKJambi, 2012)
  • Negeri Abal-Abal (KKK, 2013)
  • Dari Dam Sengon ke Jembatan Panengel (DKKudus, 2013)
  • Cinta dan Sungai-Sungai Kecil Sepanjang Usia (Grafindo, 2013)
  • Puisi Menolak Korupsi 2a (2013)
  • Ibu Nusantara, Ayah Semesta (GPU, 2013)
  • Tifa Nusantara (Dewan Kesenian Tangerang, 2013)
  • Darah di Bumi Syuhada (FAM Publishing, 2013)
  • Gemuruh Ingatan (DKJT, 2014)
  • Negeri Langit (KKK, Juni 2014)
  • Yang Melukis Tanahmu Sepanjang Masa (ITB, Mei 2014)
  • Pengantin Langit (KSI, 2014)
  • Jaket Kuning Sukirnanto (KSI, 2014)
  • Risalah Melayu Nun Serumpun (Numera-Malaysia, 2014)
  • Sang Peneroka (Gambang, 2014)
  • Tasbih Hijau Bumi (PWNU, 2014)
  • Ensiklopegila Koruptor: Puisi Menolak Korupsi 4 (2015)
  • Tifa Nusantara 2 (pustakasenja, 2015)
  • Negeri Laut (KKK, 2015)
  • Kitab Karmina Indonesia (2015)
  • Merenda Kasih (KKK, 2016)
  • Revitalisasi Sastra Pesantren (2016)
  • Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta (2016)
  • Ije Jele (2016)
  • Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (2017)
  • Negeri Awan (KKK, 2017)
  • Secangkir Hikayat Robusta: Antologi Puisi Krakatau Award 2017 (FAM Publishing, 2017) 
  • Apa Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017).


Program/Pertemuan

Selama menjalani karier sebagai penulis, A’yat Khalili telah banyak terlibat dalam pertemuan penting yang berhubungan dengan kesusastraan dan kepenulisan tanah air sampai manca negara, antara lain:
  • Liburan Sastra Pesantren (Berlibur, Berkarya, Bersastra) di Pesantren Kaliopak oleh Matapena, 26-28 Agustus 2008
  • Temu Sampena Maharajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara, Sabah, Malaysia, 08-13 Januari 2012
  • Temu Sastrawan Nusantara (TSN) ke-1, Padang, Sumatera Barat, 16-18 Maret 2012
  • Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-6, Jambi, 28-31 Desember 2012
  • Temu Karya Sastrawan Nusantara (TKSN) Tifa Nusantara 1 dan 2, Tangerang, 2013 dan 2015
  • Pertemuan Sastrawan Nusantara dan Launching Lentera II, Cilegon, Banten, 23-25 Oktober 2014
  • Pemerhati Baca Karya Dunia NUMERA-Malaysia, Kuala Lumpur, 20-25 Maret 2014
  • Pewarta Harian Online Kabar Indonesia (HOKI), 2009-2012
  • Pertemuan Sastra Negara Serumpun Berbilang Kaum, Woodland Library, Singapura, 28 Januari-08 Pebruari 2016
  • Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) 2017 oleh Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Hotel Mercure Convention Centre, Ancol, 18-20 Juli 2017. Liburan Sastra Pesantren (Berlibur, Berkarya, Bersastra) di Pesantren Kaliopak oleh Matapena, 26-28 Agustus 2008
  • Temu Sampena Maharajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara, Sabah, Malaysia, 08-13 Januari 2012
  • Temu Sastrawan Nusantara (TSN) ke-1, Padang, Sumatera Barat, 16-18 Maret 2012
  • Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ke-6, Jambi, 28-31 Desember 2012
  • Temu Karya Sastrawan Nusantara (TKSN) Tifa Nusantara 1 dan 2, Tangerang, 2013 dan 2015
  • Pertemuan Sastrawan Nusantara dan Launching Lentera II, Cilegon, Banten, 23-25 Oktober 2014
  • Pemerhati Baca Karya Dunia NUMERA-Malaysia, Kuala Lumpur, 20-25 Maret 2014
  • Pewarta Harian Online Kabar Indonesia (HOKI), 2009-2012
  • Pertemuan Sastra Negara Serumpun Berbilang Kaum, Woodland Library, Singapura, 28 Januari-08 Pebruari 2016
  • Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (MUNSI) 2017 oleh Pusat Pembinaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Hotel Mercure Convention Centre, Ancol, 18-20 Juli 2017.


Penghargaan

Adapun beberapa penghargaan yang pernah diterima dan diberikan kepadanya, antara lain:
  • Menerima penghargaan Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional (PBDepdiknas) dalam Bulan Bahasa & Sastra 2006 dan Hari Sumpah Pemuda ke-78, sebagai pemenang ke-2 Sayembara Cipta Puisi Tingkat Remaja Nasional, November 2006.
  • Menerima penghargaan Taman Budaya Jawa Timur (TBJT, Surabaya, 2006) sebagai pemenang pertama Lomba Menulis Puisi Tingkat Jawa Timur (Surabaya, 30-31 Desember 2006).
  • Menerima piala citra anugerah Walikota Surabaya sebagai pemenang pertama Lomba Menulis Tingkat Jawa Timur oleh Teater Kedok SMAN 6 Surabaya, April 2007.
  • Pemenang ke-2 Lomba Menulis Puisi Religius Tingkat Nasional dari Dewan Ekskutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto, Maret 2010.
  • Finalis Lomba Penulisan Puisi Pariwisata Tingkat Umum Nasional bertajuk “Batu Bedil Award 2010” dalam Festival Teluk Semaka (FTS) 2010 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung (22-26 November 2010).
  • Pemenang ke-3 Lomba Menulis Cerita Pendek “Menuju Palestina Merdeka: Sumbangsih dari Indonesia” oleh FLP-KAZI Depok, Gedung PPPG Bahasa, Jakarta, 2011.
  • Finalis Lomba Cerita Pendek Tingkat Mahasiswa Nasional dari UKM Belistra FKIP UNTIRTA, Banten, 2012.
  • Menerima Anugerah Piala Terbaik Kampanye Sastra Institut Teknologi Bandung (ITB) 2014
  • Finalis Lomba Cipta Puisi Tingkat Umum Nasional 2012, oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparegraf) bekerjasama dengan NulisBuku.Com & Plot Point Jakarta, 2012.
  • Menerima penghargaan Asia Tenggara dalam Anugerah Sastra Dunia Nusantara Melayu Raya (NUMERA-Malaysia) dari Persatuan Numera Malaysia (Kuala Lumpur, 20-25 Maret 2014)
  • Penerima Piala Mahfudz MD, atas juara 1 Lomba Karya Tulis NU dalam rangka Hari Lahir NU ke-87, oleh Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU & Harian Bangsa, di Gedung Jawa Pos, 2014.
  • Menerima penghargaan Festival Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Madah (UGM) 2015 sebagai pemenang ke-2 Lomba Cipta Puisi Umum Nasional 2015.


Penulis: Vien Subri 
Baca Selengkapnya
Biografi Muhammad Zainuddin Abdul Madjid - Ulama Pejuang, Pendiri Nahdlatul Wathan

Biografi Muhammad Zainuddin Abdul Madjid - Ulama Pejuang, Pendiri Nahdlatul Wathan

Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
Mawlānāsysyāikh Tuan Guru Kyai Hajjī Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd adalah seorang ulama karismatis dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat dan merupakan pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi massa Islām terbesar di provinsi tersebut. Di pulau Lombok, Tuan Guru merupakan gelar bagi para pemimpin agama yang bertugas untuk membina, membimbing dan mengayomi umat Islām dalam hal-hal keagamaan dan sosial kemasyarakatan, yang di Jawa identik dengan Kyai.

Seperti Hamka, beliapun memiliki nama singkatan, yaitu Hamzanwadi (Hajji Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd Nahdlatul Wathan Dīniyah Islāmiyah).

Muhammad Zainuddin dikenal sebagai seorang nasionalis pejuang kemerdekaan, dai, Mubaligh, guru/pendidik, Ulama/intelektual, sastrawan, politisi dan guru sufi Tarekat Hizbi Nahdatul Wathan dan pembaharu sosial keagamaan dan pendidikan. 


Kelahiran

'Al-Mukarram Mawlānāsysyāikh Tuan Guru Kyai Hajji Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd' dilahirkan di Kampung Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 17 Rabiul Awwal 1316 Hijriah bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1898 Masehi dari perkawinan Tuan Guru Hajjī Abdul Madjīd (beliau lebih akrab dipanggil dengan sebutan Guru Mu'minah atau Guru Minah) dengan seorang wanita shālihah bernama Hajjah Halīmah al-Sa'dīyyah.

Nama kecil beliau adalah 'Muhammād Saggāf'. Setelah menunaikan ibadah hajjī, nama kecil beliau tersebut diganti dengan 'Hajjī Muhammād Zainuddīn'.


Pendidikan

Maulānāsysyāikh TGKH. Muhammād Zainuddīn Abdul Madjīd menuntut 'ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji (membaca Al-Qur'ān) dan berbagai 'ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh ayahandanya, yang dimulai sejak berusia 5 tahun.

Setelah berusia 9 tahun, ia memasuki pendidikan formal yang disebut Sekolah Rakyat Negara, hingga tahun 1919 M. Setelah menamatkan pendidikan formalnya, beliau kemudian diserahkan oleh ayahandanya untuk menuntut 'ilmu agama yang lebih luas dari beberapa Tuan Guru lokal, antara lain TGH. Syarafuddīn dan TGH. Muhammād Sa'īd dari Pancor serta Tuan Guru 'Abdullāh bin Amaq Dulajī dari desa Kelayu, Lombok Timur. Ketiga guru agama ini mengajarkan ilmu agama dengan sistem halaqah, yaitu para santri duduk bersila di atas tikar dan mendengarkan guru membaca Kitāb yang sedang dipelajari, kemudian masing-masing murid secara bergantian membaca.

Beliau berhasil menyelesaikan studi di Madrasah al-Shaulatiyah Mekkah, Arab Saudi pada 1933 dengan predikat istimewa. Zainuddin adalah salah satu orang Lombok yang beruntung dilahirkan di kelurga mampu sehingga bisa mengecap pendidikan ke Mekkah sejak 1923-1934.

Madrasah al-Shaulatiyah merupakan madrasah pertama sebagai permulaan baru dalam pendidikan Arab Saudi. Madrasah ini juga dikenal legendaris lantaran menghasilkan ulama-ulama besar diantaranya pendiri NU Kyai Haji Hasyim Asyari dan pendiri Muhamadiyah Kyai Haji Ahmad Dahlan.

Di Madrasah al-Shaulatiyah, Zainuddin hanya perlu waktu 6 tahun untuk menyelesaikan studinya itu. Padahal waktu normal belajarnya mencapai 9 tahun.

Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Bahkan, ijazahnya yang ditulis tangan langsung secara istimewa oleh seorang ahli khath terkenal di Mekkah, al-Khathtath Syaikh Dawud ar-Rumani. Bahkan, ijazah Zainuddin ditandatangi delapan guru besar di madrasah tersebut.


Mendirikan pesantren dan Berjuang

Tahun 1934 sepulang dari Mekah ia mendirikan pesantren bernama al-Mujahidin dan dua tahun kemudian mendirikan madrasah Nahdatul Wathan Diniyah Islamiyah dengan sistem klasikal.

Situasi Islam di Lombok pada saat itu menjadi faktor kuat yang mendorong melakukan perubahan penting. Penggunaan Nama pesantren yang dibuat TGKH M. Zainuddin mensyariatkan semangat juang (Jihad) yang kuat untuk memajukan umat Islam dan membangkitkan bangsa, negeri, dan tanah air (Nahdatul Wathan)

Tahun 1943 ia mendirikan sekolah/madrasah bagi kaum perempuan dengan tema yang sering disebut education for all. Sekolah tersebut dinamakan Nahdatul Banat Diniyah Islamiyah.

Beliau yakin membangun lembaga pendidikan merupakan langkah strategis membangkitkan kehidupan, bukan sekedar tempat belajar mengajar tetapi juga menyiapkan pemimpin; menyemai dan memperkokoh karakter, patriotisme, dan nasionalisme.

Tahun 1947, di bawah pimpinan adik kandungnya ia melakukan penyerangan terhadap NiCA yang menewaskan santri dan guru serta adiknya sendiri. Setelah itu beliau dengan Saleh Sungkar membentuk wada bersifat politik untuk berjuang dan memajukan rakyat bernama Persatuan Umat Islam Lombok (PUIL). Selama itu, TGKH M Zainuddin aktif menjadi anggota konstituante, Masyumi, Parmusi dan Golkar.

Al Mukkarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sebagai ulama' pemimpin umat, dalam kehidupan bermasyarakt dan berbangsa telah mengemban berbagai jabatan dan menanamkan berbagai jasa pengabbeliaun, di antaranya:
  • Pada tahun 1934 mendirikan pesantren al-Mujahidin
  • Pada tahun 1937 mendirikan Madrasah NWDI
  • Pada tahun 1943 mendirikan madrasah NBDI
  • Pada tahun 1945 pelopor kemerdekaan RI untuk daerah Lombok
  • Pada tahun 1946 pelopor penggempuran NICA di Selong Lombok Timur
  • Pada tahun 1947/1948 menjadi Amirul Haji dari Negara Indonesia Timur
  • Pada tahun 1948/1949 menjadi anggota Delegasi Negara Indonesia Timur ke Arab Saudi
  • Pada tahun 1950 Konsulat NU Sunda Kecil
  • Pada tahun 1952 Ketua Badan Penaseha Masyumi Daerah Lombok
  • Pada tahun 1953 mendirikan Organisasi Nahdlatul Wathan
  • Pada tahun1953 Ketua Umum PBNW Pertama
  • Pada tahun 1953 merestui terbentuknya parti NU dan PSII di Lombok
  • Pada tahun 1954 merestui terbentuknya PERTI Cang Lombok
  • Pada tahun 1955 menjadi anggota Konstituante RI hasil Pemilu I (1955)
  • Pada tahun 1964 mendiriakn Akademi Paedagogik NW
  • Pada tahun 1964 menjadi peserta KIAA (Konferensi Islam Asia Afrika) di Bandung
  • Pada Tahun 1965 mendirikan Ma'had Dar al-Qu'an wa al-Hadits al-Majidiyah Asy-Syafi'iyah Nahdlatul Wathan
  • Pada tahun 1972-1982 sebagai anggota MPR RI hasil pemilu II dan III
  • Pada tahun 1971-1982 sebagai penasihat Majlis Ulama' Indonesia (MUI) Pusat
  • Pada tahun 1974 mendirikan Ma'had li al-Banat
  • Pada Tahun 1975 Ketua Penasihat Bidang Syara' Rumah Sakit Islam Siti Hajar Mataram (sampai 1997)
  • Pada tahun 1977 mendirikan Universitas Hamzanwadi
  • Pada tahun 1977 menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi
  • Pada tahun 1977 mendirikan Fakultas Tarbiyah Universitas Hamzanwadi
  • Pada tahun 1978 mendirikan STKIP Hamzanwadi
  • Pada tahun 1978 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah Hamzanwadi
  • Pada tahun 1982 mendirikan Yayasan Pendidikan Hamzanwadi
  • Pada tahun 1987 mendirikan Universitas Nahdlatul Wathan Mataram
  • Pada tahun 1987 mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi
  • Pada tahun 1990 mendirikan Sekolah Tinggi Ilamu Dakwah Hamzanwadi
  • Pada tahun 1994 mendirikan Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri
  • Pada tahun 1996 mendirikan Institut Agama Islam Hamzanwadi


Karya:

Dalam bahasa Arab
  • Risalah al-Tauhid
  • Sullam al-Hija Syarah Safinah al-Naja
  • Nahdlah al-Zainiah
  • At Tuhfah al-Amfenaniyah
  • Al Fawakih al-Nahdliyah
  • Mi'raj al-Shibyan ila Sama'i Ilm al-Bayan
  • Al-Nafahat ‘ala al-Taqrirah al-Saniyah
  • Nail al-Anfal
  • Hizib Nahdlatul Wathan
  • Hizib Nahdlatul Banat
  • Tariqat Hizib Nahdlatul Wathan
  • Shalawat Nahdlatain
  • Shalawat Nahdlatul Wathan
  • Shalawat Miftah Bab Rahmah Allah
  • Shalawat al-Mab'uts Rahmah li al-‘Alamin
=== Dalam bahasa Indonesia dan Sasak ===.
  • Batu Ngompal
  • Anak Nunggal
  • Taqrirat Batu Ngompal
  • Wasiat Renungan Masa I dan II

Nasyid/Lagu Perjuangan
  • Ta'sis NWDI
  • Imamuna al-Syafi'i
  • Ya Fata Sasak
  • Ahlan bi Wafid al-Zairin
  • Tanawwar
  • Mars Nahdlatul Wathan
  • Bersatulah Haluan
  • Nahdlatain
  • Pacu Gama'
  • Surat Waqiah


Wafat

Tarikh akhir 1997 menjadi masa kelabu Nusa Tenggara Barat. Betapa tidak, hari Selasa, 21 Oktober 1997 M / 18 Jumadil Akhir 1418 H dalam usia 99 tahun menurut kalender Masehi, atau usia 102 tahun menurut Hijriah. Sang ulama karismatis, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, berpulang ke rahmatullah sekitar pukul 19.53 WITA di kebeliauman beliau di desa Pancor, Lombok Timur. Tiga warisan besar beliau tinggalkan: ribuan ulama, puluhan ribu santri, dan sekitar seribu lebih kelembagaan Nahdlatul Wathan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara.


Penghargaan

Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pernah menerima penghargaan bintang Maha Putra. Bahkan, Presiden Joko Widodo secara resmi menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional untuk TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional tersebut melalui Keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/TAHUN 2017 tanggal 6 November 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Selain TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, 3 tokoh lainnya mendapat anugerah yang sama sebagai Pahlawan Nasinal. Ketiga tokoh tersebut adalah, Laksamana Malahayati dari Provinsi Aceh, Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepulauan Riau, dan Lafran Pane.


Sumber:
Baca Selengkapnya